Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

Depresi Pada Penderita Stroke


Stroke itu timbul akibat tersumbatnya peredaran darah pada otak dengan gejala spontan. Stroke merupakan ancaman sumber cacat setelah usia 45 tahun. Sebagai akibatnya, banyak penderita yang menjadi invalid alias tidak mampu lagi mandiri.
Seperti diketahui, otak itu membutuhkan banyak oksigen yang kira-kira sekitar 18% dari stok melalui peredaran darah. Tanpa oksigen, fungsi peredaran darah jadi tidak berguna. Karena tidak mempunyai cadangan, otak hanya mengandalkan oksigen pada peredaran darah tiap detik. Jika suplai oksigen terhenti sampai 10 detik, misalnya, akan terjadi radang fungsi otak. Jika terjadi lebih lama lagi bisa menimbulkan pusing, pingsan, sampai lumpuh.
Stroke terkadang bisa terjadi lagi pada penderita dengan kondisi yang lebih parah. Ini umumnya terjadi pada penderita yang kurang kontrol. Karena cepat puas, misalnya, merasa tidak perlu lagi memeriksakan diri. Jika stroke berulang, berarti pendarahan di otak jadi lebih luas.
Cukup banyak gejala stroke, tergantung di mana lokasi pecahnya pembuluh darah pada otak. Antara lain gangguan : *) Gerak: yang ringan, misalkan, tidak bisa mengambil gelas, menggosok gigi, dan menyelipkan kancing, dengan sempurna. Yang berat disebut juga lumpuh total, yang bisa menimpa tiap organ gerak, termasuk bibir, wajah, dan mata. *) Rasa : pada sebelah anggota badan, yang jika dibarengi lumpuh akan dirasakan pada sisi ini. Tingkat rasa dari yang ringan (semutan) sampai yang berat (baal). Kalau pun bisa berdiri, namun jika menginjak lantai terkadang seperti berada di awang-awang. *) Sadar: dari ringan (mudah ngantuk) sampai berat (seperti koma). Terkadang pihak keluarga cepat memvonis penderita akan segera meninggal sehingga mereka tidak/kurang semangat lagi merawat atau mengatasinya. Apalagi jika sudah manula sampai mereka seperti putus asa - meskipun tidak diucapkan dengan terus-terang. *) Verbal: baik karena organ bicara yang rusak maupun daya ingat yang turun. Misalkan dalam bentuk tidak bisa : mengeluarkan kata dan menangkap arti. Ini benar-benar akan menimbulkan depresi bagi penderita dengan latar belakang karir, seperti hakim, guru, dan orator, singkatnya yang mengandalkan mulut sebagai sarana karir.
Stroke kini tambah populer saja, sejalan sejalan dengan jumlah penderitanya yang tambah banyak, yang antara lain akibat mutu stres yang tambah tinggi dan dampak sarana hidup yang tambah moderen. Stroke tidak saja menyerang orang yang sering atau sedang sakit, juga orang yang sedang dalam kondisi puncak. Sudah berapa banyak orang yang tiba-tiba badannya merasa lemas, matanya buram, dan bicaranya pelo, yang akhirnya lumpuh. Padahal sebelumnya tidak merasakan gejala itu sedikit pun. Malah antara lain termasuk yang rajin sport. Dari aspek "sumber daya manusia" pun sudah dianggap bencana pembangunan. Karena potensi yang besar pada mereka jadi terhenti atau terbengkalai.
Bisa dibayangkan jika stroke menyerang teknokrat yang memimpin, sekaligus sebagai arsitek dan manajer, perusahaan makrodengan melibatkan ribuan karyawan? Tentu saja akan menimbulkan krisis manajemen. Terlepas, apakah stroke pada penderita akan "permanen atau sementara", yang jelas telah mempengaruhi iklim perusahaannya. Jadi, dampak stroke bukan saja pada penderitanya, namun juga pada mereka yang mengandalkan atau berkepentingan dengan penderita.

Depresi Pada Penderita Stroke

Umumnya stroke berlanjut dengan depresi. Artinya, para penderita sadar, kondisinya sudah lain untuk melakukan ini dan itu secara rutin, seperti makan harus disuapi, jalan jadi lambat, dan mandi harus dibantu. Karena faktor mental, mereka jadi depresi : sering menangis dan suka melamun. Ini tambah terasa bagi mereka yang mempunyai posisi cukup tinggi dalam karir atau sedang naik daun sebagai idola publik. Tiap kerabat yang datang besuk disambutnya dengan menangis. Penderita seperti bertanya, mengapa hal ini sampai terjadi. Malah ada yang ketus bilang mau segera mati saja, karena sudah tidak tahan lagi dengan keadaan tersebut.
Situasi ini memang berat serta memakan waktu lama. Usaha merehabilitasi sampai menyembuhkannya tidak kalah susah dengan "terapi medis". Seperti di Belanda-Australia, misalnya, psikolog sudah dilibatkan langsung bersama para dokter. Melewatkan masalah depresi, hanya akan membuat penderita bertambah parah serta bertambah susah pula untuk merehablitasinya, apalagi menyembuhkannya. Soalnya depresi sangat erat dengan tenaga. Artinya, orang depresi akan membuat banyak tenaga / energi psikis terkuras.
Jadi, sebagai anggota keluarga janganlah hanya menasihati, namun mereka lebih membutuhkan tindak lanjut berupa "terapi psikis" secara bertahap, bervariasi, dan berjenjang, sesuai dengan kondisi, latar belakang, dan emosinya. Antusias yang optimal sangat diharapkan dari mereka yang mempunyai ikatan persaudaraan atau pun ikatan emosional dengannya.
Yang penting, dalam usaha tesebut adalah bahwa penderita melakukan langkah-langkah seperti:
1. Kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya untukditanggapi dengan wajar dan serius.

2. Pengobatan yang bisa memberikannya motivasi dalam membangun kembali sikap optimis mereka yang goyah. Kita perlu melenyapkan kesan, bahwa mereka tidak lagi berguna bagi masyarakat dan keluarga.

3. Pergaulan, dalam rangka membangun kembali sosialnya. Misalkan berdialog dengan teman-temannya, agar timbul sikap sependeritaan, sekaligus timbul kesan bahwa bukan dia saja yang terkena stroke dan yang mengalami ketidakberdayaan.

4. Kesempatan berkomunikasi dengan pihak yang terkait serta bisa memonitor perkembangannya, seperti dokter dan psikolog.

5. Ketenangan hati, berupa jaminan bahwa semua keluhannya akan dirahasiakan, sehingga ia tidak perlu merasa cemas dan malu

Dukungan Psikologis Dari Keluarga

Banyak penderita yang mengalami kesulitan dalam berbicara ketika mereka recover from stroke. Peranan keluarga jelas sangat diharapkan selain semangat dari penderita itu sendiri untuk proses merehabilitasi fungsi bicaranya dan senso-motoriknya. Oleh karena proses ini memerlukan waktu relatif lama, maka perlu pengertian dan kesabaran yang dalam dari semua pihak. Yang jelas, setiap saat penderita harus diajak bicara dan berinteraksi. Ini diawali dengan sering menanyakan keinginan yang menimbulkan jawaban "singkat". Secara psikologis, motivasi yang sangat kuat pada penderita untuk mengekspresikan sesuatu, akan mendorong kemampuannya berbicara dan bergerak/bertindak. Pada umumnya, penderita cenderung lebih bersemangat menjalani proses terapi, saat kondisi mereka sedang fit.
Proses ini cenderung lebih efektif, jika secara langsung dilakukan anggota keluarganya, seperti anak-cucu. Sebab bagaimana pun, bobot kualitas komunikasi dan interaksi semacam itu susah digantikan 100% oleh pihak lain. Apalagi jika keluarga berkeinginan yang kuat untuk merehabilitasi fungsi bicara dan senso-motoriknya. Kata pakar orthopedi, dengan sikap tersebut, rehabilitasi sudah terjamin dengan prosentase besar.
Banyak faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya proses rehabilitasi. Di antaranya : frekwensi interaksi dan terapi, tekanan yang dialami (emotional pressure / situational pressure); dan, manifestasi dari recovery-nya pun beragam ekspresi dan modelnya. Jika tampak penambahan jumlah verbal yang bisa diucapkannya atau pun gerakan yang mampu dihasilkannya, kita perlu menampakkan ekspresi gembira sebagai sebuah penguat (reinforcement); sebab, ini akan tambah meyakinkannya bahwa proses terapi, dilakukan dengan tulus hati oleh keluarganya. Masalahnya, jika proses terapi dilakukan secara keras, dengan sikap dan ekspresi negatif dari lingkungan keluarga yang seharusnya mampu bersikap sabar dan penuh pengertian, maka sudah dapat diprediksikan, bahwa penderita akan mudah patah semangat dan jatuh dalam depresi.

Kamis, 15 November 2012

Humor Dalam Bingkai Psikologi


Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.

Jakarta, 24 April 2008
Anda pasti akan terbahak kalau pada tulisan ini saya mendefinisikan apa itu humor. Seperti kekurangan ide aja, mendefinisikan humor sementara hampir setiap detik kita tertawa mendengar gelitik canda dalam bus kota, kereta, mobil, ketika menonton televisi, bermain game komputer, membaca buku, singkatnya di manapun berada kita bisa guyon, humor, bahkan dalam alam pikir kita sendiri. Alam pikir? Ya, buktinya ketika tak ada seorang pun yang melontarkan cerita atau celetukan lucu, tetap saja terjadi seseorang tiba-tiba tersenyum bahkan terkikik sendiri. Artinya kita bisa menciptakan kelucuan dari sekitar dengan atau tanpa orang lain.
Lalu, apa itu lelucon, apa itu lucu? Ini tidak sekedar melucu, karena tidak sedikit penelitian psikologi yang menyelidiki humor, termasuk manfaatnya dalam dunia psikologi praktis. 

Persepsi tentang Humor
Humor is a social instrument that provides an effective way to reduce psychological distress, communicate a range of feelings and ideas, and enhance relationships; also, humor protects social relationships when communicating negative information.(Baldwin,2007)
Humor provides a means to communicate ideas and feelings, convey criticism, and express hostility in a socially acceptable manner(Brownell & Gardner, 1988; Dixon, 1980; Haig, 1986; Martin, 2001 in Baldwin 2007).
Kemampuan mentertawakan kondisi sekitar, diri sendiri, pilihan sendiri, menjadi salah satu katup yang akan melancarkan kembali kemampatan hidup. Pernah tidak anda mengalami kejadian seperti ini; anda ingin membeli sebuah pesawat televisi, sepertinya begitu sederhana, namun ternyata pilihan yang hadir sangat beragam, tidak hanya itu, anda pun harus menyesuaikan dengan lembaran yang tersedia dalam kantong.
Anda melakukan studi produk dengan membaca informasi dari koran, internet, diskusi dengan teman, kakak, juga orangtua. Lalu, anda mulai melakukan survey ke pusat elektronik terlengkap di kota anda, hmm.. dijamin deh.. sesampai di sana anda bisa terbius oleh jajaran pesawat televisi beraneka rupa, ditambah rayuan orang-orang yang seakan tak pernah lelah mengobral keunggulan tiap produk dagangannya. Anda bisa terbius dan akhirnya menunjuk satu kotak ajaib itu, atau perputaran bintang di kepala mendorong anda untuk pulang tanpa satu kotak pilihan pun.
Mungkin anda memilih yang ke dua, karena anda termasuk orang yang tidak mau membeli sesuatu dalam kondisi ’tak sadar diri’. Sehari kemudian, ketika anda sedang berjalan ke arah mesin ATM dekat kompleks rumah, tiba-tiba mata anda tertuju pada satu toko kecil di samping ATM, toko elektronika. Anda pun memasuki toko itu dan melihat beberapa televisi yang tidak menyala dengan gemerlap seperti di beberapa pusat elektronika megah yang kemarin anda kunjungi. Namun, tidak sampai lima belas menit, anda sudah mengulurkan lembaran uang sebagai transaksi diiringi senyum puas.
Kisah sukses ini akan mendapat sambutan riuh sahabat anda, â€Huu... jauh-jauh kutemani ke pusat elektronika, belinya di samping rumah..”
Kalau ada yang tidak tertawa, atau terguling-guling sakit perut, mungkin kita perlu melihat juga reaksi apa yang terjadi dalam diri sewaktu mengkonsumsi humor.

Reaksi Kognitif & Afektif
Apresiasi terhadap humor tidak murni merupakan kerja kognitif tetapi diperlukan juga keterlibatan proses afektif di dalamnya. Elemen kognitif di sini mengacu pada pemahaman humor dengan kemampuan mengenali atau mendeteksi disparitas antara materi humor dan pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya (humor comprehensive). Pada sisi lain, elemen afeksi mengacu pada pengalaman menyenangkan (respons emosional) terhadap materi humor tersebut (humor appreciation) .
Mendengar lelucon, pacuan denyut jantung kita meningkat, kulit tubuh pun bereaksi, disusul segera oleh reaksi afektif yang positif dan kuat (Goldstein, Harman, McGhee, & Karasik, 1975; Katz, 1993; McGhee, 1983 dalam Berry 2004). Inilah yang menjelaskan mengapa badan kita terguncang-guncang, muka memerah, nafas terengah dan telapak tangan memegangi perut ketika mendengar cerita lucu. Semua merupakan kerjasama rapi dan detil dari reaksi kognitif mengenali lelucon yang menjelma dalam reaksi fisik, disertai afeksi menyenangkan.

Menertawakan Lelucon
Apa yang membuat satu kejadian mampu memancing tawa pada sekelompok orang namun tidak sama sekali pada orang lain?
Studi menunjukkan kemampuan membedakan antara lucu dan tidak lucunya stimuli visual terkait pada sederhana atau tidaknya peristiwa termasuk konsepnya. Selain itu, humor juga bisa kita lihat menjadi dua jenis yakni humor verbal dan non-verbal. Apresiasi keduanya tentu tidak sama, humor verbal terkait dengan kemampuan abstraksi dan fleksibilitas mental, sementara humor non-verbal terkait dengan atensi visual.
Lelucon yang kita dengar dalam suatu percakapan membutuhkan kemampuan membayangkan dan menghadirkan imagi visual untuk menghasilkan reaksi positif yaitu tawa atau perasaan geli. Pada humor non verbal, contohnya membaca komik atau menonton film kartun membutuhkan perhatian visual kita untuk menggelitik sensitivitas humor diri kita.
Masih ada hal lain, yaitu pola hubungan sosial yang ternyata berpengaruh untuk menerabas perbedaan stimuli humor verbal maupun non-verbal. Misalnya, sekelompok mahasiswa psikologi, kemungkinan besar telah akrab dengan berbagai istilah yang dengan renyah sering menjadi bahan canda, seperti ’proyeksi’, atau â€™denial’.
Ketika seseorang dalam kelompok bercerita tentang mahasiswa yang dianggap begitu menyenangi dosen baru padahal di mata dia menyebalkan, kemudian ada celetukan”Proyeksi tuh, padahal wajah lu berbinar juga sekali setiap di kelas dosen ganteng  itu... ,”disambut gelak tawa, namun dua mahasiswa Arsitek lain yang kebetulan berada di dekat mereka akan mengernyitkan dahi dan mencoba lebih keras memahami makna kata ‘proyeksi’. Apakah sama dengan proyeksi seperti pada gambar perspektif yang sering mereka buat?
Berlaku pula ketika mahasiswa psikologi terkikik melihat cipratan tinta yang secara spontan memancing humor ala test Rosarch, bukan merupakan humor bagi mahasiswa seni rupa misalnya. Maka konteks pun memegang peran di sini.

Humor  dalam Konseling
Seperti bentuk interaksi lain dalam kehidupan manusia, sesi konseling pun salah satu bentuk interaksi. Komunikasi selalu memerlukan ’kesamaan bahasa’ untuk bisa terhubung. Kita mengenal sebuah istilah ice breaking, sebaai salah satu titik krusial dalam menjalin rapport di garis awal sesi ini. Humor telah menjadi pilihan spontan, tidak kecuali bagi konselor dan klien sendiri.
Konselor perlu melihat dan menentukan kondisi yang tepat ketika akan menyelipkan atau menggunakan humor dalam sesi konselingnya. Penggunaan humor ini menuntut pengukuran tingkat ketepatan dalam waktu dan sensitivitas. Humor yang tepat dan positif bukan tidak mungkin mampu menciptakan great insight  bagi kehidupan dan dunia klien.
Sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang mungkin tercipta di awal konseling, idealnya humor mampu meredakan ketegangan dan memberi kemajuan positif dalam interaksi selanjutnya. Studi telah menunjukkan bahwa humor memang instrumen yang ampuh dalam konseling. Interpretasi tepat terhadap atmosfer atau suasana klien (konseling) serta kepribadian klien, menjadi pertimbangan penting bagi konselor untuk mengeluarkan joke-joke segar sebagai pendukung kesuksesan konseling.
Humor juga merupakan representasi komunikasi dan ekspresi klien. Klien memanfaatkan humor sebagai alat komunikasi untuk menanggapi berbagai aspek yang disajikan dalam proses konseling. Tidak jarang klien merasa grogi atau cemas ketika memasuki sesi konseling, maka humor menjadi barometer tingkat kenyamanan dan keamanan yang akan didapatkan dari interaksi dengan konselor. Kembali, humor berperan sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang cukup sensitif.

Humor Memacu Kreativitas
Humor dan kesehatan telah banyak diperbincangkan dan dibuktikan, karena tertawa berarti melakukan peregangan otot-otot halus tidak hanya di sekitar wajah tapi seluruh tubuh sehingga kita menjadi santai. Humor juga berkhasiat memacu kreativitas, karenanya sangat dianjurkan dalam ruang kelas maupun ruang keluarga.
Pendekatan komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak, pengajar dan anak didik dapat mendorong kreativitas serta kemampuan berpikir, mengenalkan nilai-nilai, mengajarkan perilaku positif dan tanggung jawab pada lingkungan sekitar, menanamkan rasa percaya dan kepercayaan diri anak-anak dengan mengenalkan satu mekanisme untuk menghadapi kesedihan, kekecewaan atau perasaan duka (Lovorn,2008).
Mengapa? Karena mengapresiasi humor tidak sekedar terbahak, dibutuhkan sensitivitas sosial mencakup momen, siapa dan di mana kita saat itu. Mungkin kita sendiri akan langsung merasa geli menghadai satu kegagalan, tetapi kita perlu berpikir ulang ketika mendapati sahabat yang begitu terpukul pada satu kejadian, tidak serta merta humor bisa menjadi obat kekecewaan. Maka, mengenalkan dan membiasakan humor pada anak-anak, sekaligus melatih banyak aspek seperti terungkap dalam penelitian Lovorn di atas.
JK.Rowling dalam karyanya ”Harry Potter” pun menawarkan ’terapi’ humor pada pembacanya dengan menciptakan mantra â€Ridiculus” untuk melenyapkan boggart, makhluk non penyihir yang selalu berwujud beda-beda tergantung ketakutan yang dimiliki penyihir. Seperti Ron Weasley yang takut pada laba-laba, maka boggart akan menampakkan dirinya sebagai laba-laba raksasa, mengucapkan mantra Ridiculus dan membayangkan laba-laba (ketakutan) menjadi /melakukan sesuatu yang menggelikan, maka hilanglah ketakutan (Boggart) itu.
Menertawakan ketakutan diri sendiri, menjadi obat penawar yang ampuh, itulah yang ingin disampaikan. JJJ


Literature:
Baldwin, Erin (2007) Humor Perception: The Contribution of Cognitive Factors. A Dissertation Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Doctor of Philosophy in the College of Arts and Sciences; Georgia State University
Berry, Karlene (2004) The Use of Humor in Counseling. A Research Paper Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Master of Science Degree in Guidance and Counseling:University of Wisconsin-Stout
Lovorn, Michael G (2008) Humor in the Home and in the Classroom: The Benefits of Laughing While We Learn. Journal of Education and Human Development, Volume 2, Issue 1, 2008

Insomnia


Oleh : Veronica Adesla, S.Psi

Jakarta, 10 Juni 2009
Definisi
Hampir setiap orang dari segala usia pernah mengalami masalah kurang tidur, seperti: sulit untuk tidur , cepat terbangun dari tidur dan tidak bisa tidur kembali, berulang kali terjaga dari tidur, tidur dengan tidak nyaman atau gelisah. Gangguan tidur ada banyak jenis, namun dalam bahasa ilmiah, gangguan tidur yang seperti ini disebut dengan istilah insomnia. Semakin bertambah usia, semakin besar kemungkinan seseorang pernah mengalami insomnia. Terutama pada lanjut usia (diatas 65 tahun) yang sebagian besar mengalami gangguan tidur, meski tidak diketahui apakah ini adalah proses normal dari menua ataukah karena faktor lain. Gangguan tidur demikian membuat seseorang tidak memiliki kualitas dan kuantitas  (jumlah waktu) tidur yang baik.

Kategori
Insomnia dapat dibedakan menurut durasi munculnya gangguan, sebagai berikut:
1.     Transient Insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung kurang dari satu minggu.
2.     Short -term insomnia, yaitu  insomnia yang berlangsung satu hingga tiga minggu.
3.     Chronic Insomnia, yaitu insomnia yang berlangsung lebih dari tiga minggu.
Semakin parah tingkat gangguan maka semakin urgent seseorang perlu melakukan konsultasi medis, baik itu kepada psikolog, psikiater, maupun dokter. Terutama untuk kasus Chronic Insomnia. Namun untuk Transient Insomnia masih dapat dilakukan self help atau usaha-usaha yang dapat dilakukan sendiri untuk mengatasinya.
Mengapa insomnia penting untuk ditangani? Karena insomnia dapat berdampak pada menurunnya totalitas / kualitas diri seseorang dalam beraktivitas dan berfungsi (fisik, emosional, dan intelektual) dalam hidup sehari-hari. Sehingga dapat memunculkan banyak masalah di kesehariannya.
Bagaimana mungkin kualitas dan kuantitas tidur seseorang bisa berdampak pada totalitas atau kualitas diri seseorang? Ini karena tidur adalah salah satu proses yang mengambil peranan penting dalam hidup manusia. Manusia menghabiskan 1/3 waktu hidupnya untuk tidur. Menurut info dari  healthcommunities, bayi hampir selalu tidur di sepanjang harinya sekitar 16 jam sehari; remaja biasanya butuh waktu 9 jam sehari; sementara orang dewasa membutuhkan waktu tidur kurang lebih 7-8 jam sehari. Ini adalah sebuah mekanisme kuat dari dalam tubuh manusia yang bersifat natural. Sama seperti binatang yang juga tidur pada waktu-waktu tertentu. Pernah dilakukan penelitian oleh para ilmuwan terhadap tikus-tikus, mereka berusaha membuat tikus-tikus tetap terjaga, salah satunya dengan jalan secara konstan menyiramkan air dingin ke tubuh tikus, hal ini terus dilakukan akhirnya setelah 14 hari tikus-tikus inipun mati (Dr. Nick Carr, ABC). Demikianlah tidur menjadi salah satu proses dalam kehidupan yang penting. Ketika seseorang tidur, tubuh mengistirahatkan diri dan berproses menciptakan kembali keseimbangan di dalamnya, ini adalah faktor paling penting bagi kesehatan manusia baik itu kesehatan fisik maupun mental.

Gejala
Kita sudah membicarakan pentingnya tidur dalam proses kehidupan manusia. Namun,  bukan sembarang tidur yang  dimaksudkan disini. Karena hanya tidur yang berkualitas lah yang dapat membuat proses dalam tubuh bekerja secara optimal ketika tubuh beristirahat. Pada penderita insomnia, tidur yang berkualitas ini belumlah tercapai. Gejala-gejala orang yang mengalami insomnia adalah antara lain:
·         Gangguan berhubungan dengan aktivitas tidur seperti: sulit tidur, terbangun dari tidur terlalu dini, atau sering terbangun dari sepanjang malam dan tidak bisa tidur kembali, merasa tidak bersemangat / segar / merasa lelah setelah bangun tidur.
·         Mengalami masalah dalam menjalani aktivitas sehari-hari akibat insomnia, seperti: turunnya produktivitas; sering mengantuk di siang hari; sulit/kurang dapat berkonsentrasi dan fokus; sulit mengingat / sering lupa bahkan pada hal yang baru saja dialami; tidak dapat berpikir jernih / objektif - kesulitan memberikan pertimbangan dan mempengaruhi penilaiannya terhadap sekitar; mengalami gangguan koordinasi otot; kurang sigap; mengalami gangguan dalam bersosialisasi (memiliki sedikit hubungan sosial, kurang aktif, mudah tersinggung); mengalami kecelakaan dalam berkendaraan akibat kelelahan atau kekurangan tidur.
·         Pada orang-orang tertentu, masalah sehari-hari semakin memburuk akibat tingkah laku mereka sendiri yang tidak tepat dalam upaya menenangkan diri dari gangguan insomnia, seperti: merokok, minum-minuman beralkohol dan kafeine, serta mengkonsumsi obat-obatan (obat tidut, obat penenang) tanpa resep dokter / kecanduan obat-obatan.
Jika anda mengalami gejala yang disebutkan diatas berarti anda mengalami insomnia. Untuk mengetahui tingkat insomnia yang anda alami, anda harus  memperhatikan durasi munculnya gangguan insomnia tersebut dan kenalilah penyebab munculnya insomnia tersebut pada diri anda. Mengenal penyebab munculnya insomnia juga dapat membantu anda dalam menentukan kategori insomnia yang anda alami.

Penyebab
Menurut Saimak T. Nabili, penyebab insomnia dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok penyebab transient & short-term insomnia; dan penyebab chronic atau long-term insomnia.
Penyebab atau kondisi yang dapat memicu transient & short-term insomnia, antara lain:
Jet lag;
Perubahan shift kerja;
Suara bising mengganggu atau tidak menyenangkan seperti: suara dengkuran;
Temperatur ruangan yang tidak nyaman (terlalu panas ataupun terlalu dingin);
Situasi yang membuat stres (persiapan ujian, kehilangan orang yang dicintai, dipecat, bercerai, perpisahan); 
Menderita penyakit keras atau harus menjalani perawatan di rumah sakit;
Sedang dalam proses penyembuhan medis, seperti: pengobatan dari penggunaan obat-obatan, alkohol, atau kecanduan zat / obat-obatan / bahan-bahan tertentu;
Insomnia terkait dengan ketinggian tempat, seperti di gunung.

Sementara penyebab atau kondisi yang dapat memicu chronic atau long-term insomnia, antara lain:
Kondisi Psikologis: gangguan kecemasan, stres, schizophrenia, mania (gangguan bipolar), dan depresi. Insomnia dalam beberapa kasus menjadi indikator seseorang yang mengalami depresi atau masalah mental.
Kondisi Fisiologis: sindrom sakit kronis, sindrom kelelahan kronis, penyumbatan jantung atau kelumpuhan jantung, night time angina (sakit di bagian dada) akibat penyakit jantung, acid reflux disease (GERD), chronic obstructive pulmonary disease (COPD) / penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), noctural asthma / gangguan asthma pada malam hari, obstructive sleep apnea / penyumpatan saluran napas yang terjadi ketika tidur, degenerative disease (penyakit “kemunduran”) seperti parkinson dan alzheimer (pada kasus ini insomnia seringkali dijadikan faktor pengambil keputusan untuk menempatkan perawatan rumah), tumor otak, stroke, atau trauma otak.
Kelompok beresiko tinggi terkena insomnia : travellers / para pelancong, para pekerja shift  dengan shift kerja yang sering berubah-ubah, para lanjut usia, para remaja atau pelajar dewasa muda, wanita hamil, dan wanita menopouse.
Pengobatan medis yang terkait dengan insomnia : obat flu dan asthma tertentu yang bebas dijual maupun yang harus didapatkan dengan resep dokter; pengobatan tertentu untuk tekanan darah tinggi  juga berasosiasi dengan tidur yang kurang; beberapa pengobatan yang digunakan untuk menangani depresi, gangguan kecemasan, dan schizophrenia.
Penyebab lain: kafein dan nikotin berasosiasi dengan tidur yang kurang; alkohol berasosiasi dengan gangguan tidur dan membuat tidur terasa tidak menyegarkan ketika bangun di pagi hari; gangguan dari teman tidur yang mendengkur atau tidak bisa diam (seperti: kakinya bergerak-gerak secara periodik selama tidur) dapat membuat kamu tidak memperoleh tidur malam yang baik / berkualitas.
Demikian kita sudah mengetahui gejala dan penyebab / pemicu insomnia. Selanjutnya seperti sudah disinggung diatas mengenai pentingnya menangani insomnia maka perlu kita ketahui apa saja yang dapat dilakukan guna menangani insomnia. Untuk menangani insomnia yang pertama-tama harus dilakukan adalah mencari tahu / menemukan penyebab terjadinya insomnia. Setelah mengetahui penyebabnya  maka sangat penting untuk mengelola dan mengendalikan masalah tersebut. Sebab seiring dengan teratasi masalah tersebut maka masalah insomnia pun akan terselesaikan.

Penanganan
Menurut Saimak T. Nabili, penanganan insomnia dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan non-pharmacologic / non-medical dan pendekatan pharmacologic / medical. Pendekatan non pharmacologic meliputi: sleep hygiene, relaxation therapy, stimulus control, dan sleep restriction. Pendekatan-pendekatan ini mengacu pada terapi cognitive behaviour. Dan ada juga terapi gizi yang dikemukakan oleh Prof. DR. Ali Khomsan.
Sleep Hygiene: meliputi beberapa langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur, antara lain:
-          Tidur secukupnya, sesuai waktu yang butuhkan untuk beristirahat; jangan tidur berlebihan!
-          Berolahraga secara teratur sedikitnya 20 menit setiap  hari, paling baik dilakukan 4-5 jam sebelum waktu tidur. Hindari olahraga berat sebelum tidur!
-          Hindari memaksakan diri untuk tidur
-          Tetapkan jadwal tidur dan bangun setiap hari secara teratur (misalnya: tidur jam 10 malam dan bangun jam 5 pagi)
-          Jangan minum minuman berkafein setelah sore (teh, kopi, soft drink, dsb) atau hentikan minum minuman berkafein 8 jam sebelum waktu tidur. selain itu kurangi penggunaan kafein.
-          Hindari “night caps” atau minum alkohol sebelum tidur
-          Jangan merokok, terutama di malam hari. Merokok menjelang tidur dapat memicu insomnia. Selain itu, sangat baik untuk mengurangi merokok.
-          Jangan pergi tidur dalam keadaan lapar namun juga hindari makanan berat dan minum berlebihan sebelum waktu tidur - hentikan makan dan mencamil 1 jam sebelum waktu tidur
-          Sesuaikan suasana di ruangan tidur (penerangan, temperatur, bunyi-bunyian, dsb)
-          Jangan pergi tidur bersama dengan kekhawatiran anda; usahakan untuk menyelesaikannya sebelum anda pergi tidur
Relaxation Therapy: teknik ini melatih otot-otot dan pikiran menjadi relax dengan cara yang cukup sederhana seperti: meditasi dan relaksasi otot atau mengurangi cahaya penerangan, dan memutar musik yang menyejukkan tepat sebelum anda pergi tidur.
Stimulus Control: meliputi beberapa langkah sederhana yang dapat membantu pasien dengan chronic insomnia, antara lain:
-          Beranjak tidur ketika anda merasa mengantuk
-          Jangan menonton TV, membaca, makan, mengerjakan tugas, atau memikirkan kekhawatiran anda di tempat tidur. Tempat tidur hanya boleh digunakan untuk tidur dan melakukan aktivitas seksual.
-          Jika anda tidak tertidur setelah 30 menit beranjak ke tempat tidur, maka bangunlah dan pergi ke ruangan lain kemudian lanjutkanlah teknik relaksasi anda.
-          Aturlah alarm jam anda untuk bangun pada waktu yang telah anda tentukan setiap pagi, lakukan ini bahkan ketikaweekends/ akhir pekan. Jangan tidur berlebihan!
-          Hindari tidur terlalu lama di siang hari. Batasi tidur siang anda kurang dari 15 menit kecuali atas arahan dokter. Jika memungkinkan, pilihlah untuk menghindari tidur siang karena ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur anda di malam hari. Kecuali untuk kasus ganguan tidur tertentu yang justru bisa mendapatkan keuntungan dari tidur siang - diskusikan issue ini bersama dokter anda.
Sleep Restriction: membatasi waktu anda di tempat tidur hanya untuk tidur dapat meningkatkan kualitas tidur anda. Atur waktu tidur dan bangun secara rigid dan paksakan diri untuk bangun ketika sudah waktunya sekalipun anda masih mengantuk. Ini akan membuat anda tidur dengan lebih baik di malam sesudahnya sebagai ganti gangguan tidur yang anda alami di malam sebelumnya.
Penanganan sederhana lainnya yang dapat dilakukan, antara lain: Terapi Gizi. Menurut Prof. DR. Ali Khomsan, makanan dan minuman yang dianjurkan dalam rangka menangani insomnia adalah:
Asupan gizi magnesium dan kalsium cukup dapat menangkal imsonia dan mengurangi kecemasan atau stres;
Konsumsi karbohidrat kompleks seperti crackers, atau bagel dapat merangsang rasa kantuk dan membantu anda tidur;
Segelas susu hangat dan madu dapat membuat tidur menjadi lelap;
Makan lettuce atau selada di malam hari dapat mempercepat kantuk.
Pendekatan pharmacologic / medical berarti penanganan insomnia dengan menggunaan obat-obatan dan terapi medis. Beberapa jenis obat yang digunakan dalam menangani insomnia antara lain:
Benzodiazepine sedatives - dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur selama menggunakan pengobatan ini;
Nonbenzodiazepine sedatives; Ramelteon (Rozerem) - obat yang digunakan untuk menstimulasi Melatonin receptors. melatonin - dikeluarkan oleh kelenjar pineal dalam tubuh dan mulai mengalir ketika sinar matahari / cahaya meredup / gelap, fungsinya adalah untuk memerintahkan tubuh untuk istirahat;
Beberapa antidepressant - secara umum tidak terlalu membantu untuk insomnia tanpa depresi;
Antihistamines - menyebabkan kantuk tapi tidak meningkatkan tidur dan tidak tidak dapat digunakan untuk menangani chronic insomnia;
Valeriana officinalis (Valerian) - pengobatan herbal yang digunakan di United States namun belum ada penelitian  yang mampu menunjukkan manfaat nyatanya pada pasien yang mengalami chronic insomnia.

Mengenai manakah yang lebih baik atau efektif dalam menangani insomnia, apakah itu menggunakan pendekatan non pharmacologicataukah pharmacologic? Tidak ada jawaban rigid akan hal ini. Pada beberapa kasus insomnia yang memang dapat ditangani tanpa perlu melibatkan penggunaan obat-obatan maka akan lebih baik jika cukup menggunakan pendekatan non pharmacologic. Karena dengan demikian pasien dapat terhindar dari efek samping penggunaan obat-obatan. Namun untuk kasus-kasus insomnia tertentu (seperti: insomnia terkait dengan gangguan psikologis berat (schizophrenic), gangguan medis berat (kanker), dan penyalahgunaan obat / narkoba) dimana hasil maksimal atau efektif baru bisa didapatkan dengan melibatkan pendekatan pharmacologic maka kombinasi penggunaan kedua pendekatan non pharmacologic dan pharmacologic menjadi solusi yang baik. Sangat rentan jika pendekatanpharmacologic tidak disertakan dengan pendekatan non pharmacologic karena sangat mungkin muncul ketergantungan pasien terhadap obat sementara pasien diharapkan tidak selamanya harus bergantung pada penggunaan obat. Oleh karena itu pasien juga harus disiapkan secara mental (kognitif dan behaviour) untuk dapat menghadapi insomnia terlepas dari penggunaan obat .
Penyembuhan insomnia sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan insomnia yang dialami, ketepatan penanganan yang dilakukan, kondisi medis, dan partisipasi aktif orang tersebut untuk turut serta berjuang menangani insomnia yang dialaminya.

Daftar Pustaka
Amir, Nurmiati. (October 19, 2008). "Tata Laksana Insomnia Insomnia Bisa Terjadi Pada Semua Lapisan Usia, Tak Terkecuali Anak-Anak." Republika Online. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.republika.co.id/koran/104/8619/Tata_Laksana_Insomnia
Carr, Nick. "The Function of Sleep." ABC. This data retrieved June 09, 2009 fromhttp://www.abc.net.au/dimensions/dimensions_health/Transcripts/s859047.htm
Healthcommunities. (Jan 02, 2000). "Sleep Disorders: Overview." Healthcommunities. This data retrieved June 09, 2009 fromhttp://www.neurologychannel.com/sleepdisorders/types.shtml
Healthcommunities. (Jan 02, 2000). "Sleep Disorders: Types of Sleep Disorders." Healthcommunities. This data retrieved June 09, 2009 from http://www.neurologychannel.com/sleepdisorders/types.shtml
Iskandar, Yul. (2009). "Konsultasi Terapi Insomnia." Bisnis Indonesia Online >> Konsultasi. This data retrieved June 09, 2009 fromhttp://web.bisnis.com/konsultasi/4id293.html
Khomsan, Ali. "Terapi Gizi untuk Insomnia."  Departemen Kesehatan Republik Indonesia. This data retrieved June 09, 2009 fromhttp://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=51&Itemid=3
Nabili, Saimak T. " Insomnia." EMedicineHealth. This data retrieved June 09, 2009 fromhttp://www.emedicinehealth.com/insomnia/article_em.htm