Selasa, 15 November 2011

Penyebab Lesbian

Senyummu yang menenangkan dan tatapan matamu yang teduh itu selalu kurindu….
Begitu pesan singkat suami pagi tadi yang mengingatkanku pada seorang teman wanitaku yang sekarang entah di mana, yang pernah mengatakan kalimat seperti itu. Awalnya kuanggap biasa dan bercanda karena kami memang berteman dekat. Lama kelamaan sikap dan perilakunya menurutku saat itu kelewatan dan menjijikan untuk sesama wanita. Hal itulah yang membuatku menghilang darinya karena saya tidak mau ambil resiko setelah berulang kali saya berusaha menyadarkannya kalau perilaku karena perasaannya pada saya sebuah kekeliruan yang besar.

Lesbian, orientasi seks sejenis sesama wanita, ada banyak alasan yang melatarbelakangi seorang wanita terjangkiti virus jiwa yang satu ini. Karena trauma peristiwa kekerasan dalam lingkungan keluarga,seorang anak yang sering menyaksikan kekerasan ayahnya kepada ibunya hingga manjadikan dia trauma dan membekas sampampai dewasa dan menjadikannya berfikiran semua laki-laki seperti ayahnya.
Kegagalan dan kepahitan perjalanan kisah asmaranya dengan lawan jenisnya,sering kali membuat wanita berpikir dan berlaku irasional.Kebencian yang berlebihan terhadap mantan pasangan membuatnya menyukai sejenisnya.
Karena pengaruh lingkungan, pergaulannya dengan penderita lesbian mampu membuat wanita jadi lesbian juga, entah karena tergoda atau karena latah. Demikian dahsyarnya pengaruh lingkungan pergaulan sering membuat orang “sehat jadi sakit” karena tidak mampu membawa diri.
Dari berbagai penyebab tumbuhnya kelainan seks itu salahsatunya adalah lemahnya jiwa. Dan kelemahan jiwanya lah yang menjadi faktor paling dominan sebagai penyebabnya. Sehingga di butuhkan kemauan kuat dan kekuatan jiwa yang tangguh untuk menyembuhkannya atau menghindarinya
Kelemahan jiwa sering kali mendorong manusia berbuat menyimpang. Banyak di antara kita tidak mempersiapkan jiwa yang tangguh untuk menghadapi kenyataan hidup yang sering kali tidak semanis gula-gula yang ternyata kadang meninggalkan rasa pahit dan seindah bunga-bunga yang ternyata bungapun berduri. Sehingga ketika jiwa mendapat goncangan maka pelarian yang keliru itu sering jadi alasan.
Menyadari betapa penting ketangguhan jiwa dalam mengarungi samudera kehidupan sudah semestinya sebagai orang tua membekali anak dengan ketaqwaan sejak dini. Bukan hanya memenuhi kebutuhan materi anak saja yang menjadi tanggungjawab orang tua.Dan kewajiban orang tua juga membangun ketegaran jiwa anak untuk mempersiapkan diri jika mendapat guncangan agar sanggup menolak kalah dengan kelemahan perasaan, karena orang tua tidak mungkin mrndampingi puterinya setiap kali mengalami goncangan jiwa.
Seberat apapun penderitaan yang di sebabkan kaum adam, jangan di jadikan alasan untuk lari dari kenyataan. Menerima hal itu sebagai pelajaran demi kematangan jiwa tentu lebih baik. Kalaupun ada yang perlu di benci, itu bukan oknumnya, tapi adalah perilakunya. Kekeliruan besar jika harus membenci setiap laki-laki yang kemudian menjadikan perilaku lesbi.
Bagaimana mungkin manusia yang tercipta dengan segala kelebihan dan kemuliaan sebagai mahluk, justeru berperilaku lebih rendah dari hewan yang hanya mau bercumbu dan bercinta dengan lawan jenisnya?. Sesuatu yang melampaui batas bukan?. Rasanya bukan berlebihan jika dalam pandanganNya perbuatan seks sejenis lebih berat dosanya dari pada zina.
Dengan menjaga kenormalan wanita, sesungguhnya merawat masa depan manusia. Umat manusia bisa punah jika lesbian mewabah, sebab tak ada wanita yang mau di nikahi pria

Tidak ada komentar:

Posting Komentar